Aku terlahir sebagai anak yang periang, tomboy dan terkenal bandel. Saat umurku 4 tahun, aku meninggalkan kakak perempuanku satu-satunya tinggal bersama nenek dan sepupuku yang lain. Sedangkan aku dan orang tuaku pindah ke pinggiran Kota Bandung.
Tak banyak kejadian-kejadian dari masa awal-awal pindah yang bisa kuingat, yang kuingat aku punya dua teman laki-laki dan satu tetangga perempuan seusiaku yang tidak begitu dekat denganku. Entah, sense of friendship-ku selalu lebih besar pada laki-laki dibanding dengan perempuan.
Hari-hari berlalu, aku mulai berteman dengan beberapa anak di lingkunganku dan kebanyakan memang laki-laki. Hal itu semakin membentuk karakter bandelku. Sebagai keluarga kecil yang hanya tinggal bertiga, perhatian mamaku memang hanya terpusat padaku.
Hal-hal yang begitu melekat diingatanku hanya saat-saat dimana aku mendapat hukuman-hukuman tegas cenderung kasar dari orangtuaku ketika mereka kehabisan kesabaran menghadi Dewi kecil yang nakal. Seringkali aku diceburkan ke selokan bagaikan membilas pakaian sehabis nyuci. Itu tak seberapa, ketika aku sudah menangis meraung-raung, hal yang pasti aku terima adalah direndam di bak mandi dengan posisi kaki sejajar dengan muka. Sakit memang, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain berteriak "Ampuuuun !!".
Dimataku papa adalah seorang yang mengagumkan karena tahu banyak hal namun kasar. Sedang mamaku, aku selalu menganggapnya cerewet dan galak. Hukuman-hukuman seperti itu tidak berhenti aku terima saat aku menginjak umur 5 tahun. Mungkin karena aku tetap menjadi aku yang nakal dan bandel, sehingga siksaan-siksaan itu belum menjauh dari hari-hariku.
Selain merekam hukuman-hukuman itu, otak ini seringkali mendapat rekaman baru melalui mata kecilku. Sebuah pertengkaran hebat di malam hari. Bahkan ketika aku sudah lelap tidur, aku tersadar hanya karena mendengar dua suara yang sangat kukenal saling berteriak penuh emosi. Pertengkaran lagi.
Kalau sudah begitu, tidurpun tak bisa. Aku hanya bangun dan duduk diatas selapis kasur tipis, melipat kakiku dan menonton sebuah 'pertunjukan' tak mengenakan sampai terdengar pintu yang terbanting dan suasana berganti dengan isak tangis mamaku. Dari mata ini aku menerawang bertanya-tanya, "Apa ini karena aku nakal?" tapi tak pernah berani kutanya mamaku ada apa, aku hanya kembali ke posisi tidur, menutup seluruh badan dengan selimut. Menangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar